Lottery website platform_Know the rules of Texas Hold'em_Online cash casino_Online Baccarat Sports_Indonesia's most popular online gambling game

  • 时间:
  • 浏览:0

Baccarat account openingsTIP bukan satu-satunya sekoBaccarat account openinglah keBaccarat account openingdinasan yang punya catatan hitam. IPDN atau dulu yang bernama STPDN juga sama-sama punya sejarah panjang soal kekerasan. Tentu kita masih ingat kehebohan tewasnya praja Cliff Muntu di tahun 2007, yang disebabkan oleh 48 tindak kekerasan oleh seniornya. Dengan organ-organ tubuh yang nyaris rusak, Cliff Muntu menyusul dua orang praja lainnya: Wahyu Hidayat (2002) dan Eri Rahman (2000). Selain kasus-kasus itu masih banyak sederet kasus kekerasan dan perpeloncoan yang tidak manusiawi di IPDN, yang meskipun tidak menyebabkan kematian, tetap saja mencoreng wajah pendidikan.

Fikri Dolasmantya Surya adalah nama mahasiwa baru yang tewas saat mengikuti perkemahan dalam rangkaian acara ospek jurusan Planologi ITN Malang tahun 2013 lalu. Kasus ini menjadi begitu viral setelah muncul foto-foto di media sosial tentang kegiatan ospek yang jelas tidak pantas, mulai dari aksi-aksi kekerasan hingga maba yang dipaksa untuk melakukan adegan seksual. Menurut penuturan salah satu saksi yang merupakan teman Fikri, mereka juga disuruh untuk minum air laut sebanyak-banyaknya hingga kembung, kemudian dipukul, disuruh push-up, dan diinjak-injak tangannya oleh panitia. Dengan kegiatan seekstrem ini, lagi-lagi kita perlu bertanya: pendidikan macam apa yang sebenarnya sedang diberikan?

Lagi-lagi kasus perpeloncoan atas nama senioritas memakan korban dan mencoreng dunia pendidikan. Meski acara-acara semacam ini sudah pasti mendapat izin dari pihak kampus, patut dipertanyakan apakah ada batas-batas yang jelas seberapa jauh ‘pendidikan dasar’ dilakukan. Karena bukan kali ini saja acara diksar dan ospek menjadi kedok dari aksi premanisme yang membuat korban berjatuhan.

Senioritas tak memberikan pendidikan apa-apa, selain hanya melestarikan sistem yang buruk dan menumbuhkan dendam yang salah tempat. Semoga nama-nama yang berpulang selama masa perpeloncoan itu menjadi yang terakhir. Sudah cukup nyawa yang melayang atas nama penghormatan berdasarkan senioritas.

Sama-sama di bulan Januari ini kabar duka juga datang dari STIP. Amirulloh Adityas Putra, mahasiswa tingkat I Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran ini meninggal dunia, diduga setelah mendapatkan dianiaya oleh seniornya. Polisi sudah memastikan bahwa penyebab kematian Amirulloh adalah pukulan di dada, perut, dan ulu hati. Keempat seniornya yang melakukan kekerasan saat ini sudah resmi menjadi tersangka. Kematian Amirulloh, menambah daftar panjang kasus kematian mahasiswa STIP karena senioritas yang kebablasan. Apakah prinsip disiplin yang diterapkan oleh sekolah ‘semi-militer’ semacam ini memang memberi legitimasi untuk tindak kekerasan?

Pendidikan dasar (Diksar) Mapala UII menyisakan duka. Tiga mahasiswa tewas setelah mengikuti acara The Great Camping (TGC) yang digelar tanggal 13-20 Januari 2017 di Gunung Lawu, Karanganyar. Muhammad Fadli (19) meninggal adalam perjalanan menuju rumah sakit (20/01/2017), Syait Asyam (19) meninggal setelah dirawat selama satu hari di rumah sakit Bethesda, dan Selasa malam menyusul Ilham Nur Padmi (20). Ilham yang dirawat selama dua hari di Jogja International Hospital sudah diperbolehkan pulang ke indekos, sebelum dibawa ke RS Bethesda karena pingsan dan menghembuskan nafas terakhir di sana.

Senioritas memang bukan hal yang asing lagi. Tak selalu berujung bully, namun senioritas adalah masalah yang sering dianggap sederhana dan umum terjadi. Tak hanya di dunia sekolah dan mahasiswa, di dunia kerja tak jarang terjadi pula. Pegawai muda harus terima diperlakukan semena-mena oleh pegawai yang lebih tua. Mulai dari disuruh-suruh sampai dijadikan kambing hitam. Mengapa skema ini bisa begitu umum terjadi, perlu kita pikirkan bersama-sama.

Dalam dunia kampus atau sekolah, kekerasan dan senioritas rawan terjadi saat masa orientasi. Berkedok memberi pendidikan mental, senioritas terjadi dalam berbagai bentuk. Ingatkah saat kamu masih menghadapi masa orientasi, kamu diharuskan memakai atribut memalukan dan menuruti setiap kata-kata senior? Kesalahan pun bisa dicari-cari hanya supaya punya alasan untuk membully. Sedikit perlawanan akan membuat senior merasa berhak untuk memberi hukuman. Hal ini berlaku dengan sistem balas dendam. Artinya, kamu yang saat ini mendapat perpeloncoan yang menyebalkan, ‘punya hak’ untuk membalasnya kepada adik-adik kelasmu kelak.

Barangkali bullying atau senioritas ini adalah buah budaya kita yang tergila-gila pada hierarki. Dia yang punya jabatan tinggi merasa lebih baik, karenanya layak untuk mendapatkan penghormatan tinggi. Sementara dia yang jabatannya lebih rendah, ternyata mau-mau saja melakukan ini itu hanya untuk cari aman dan menjilat, siapa tahu bisa menjadi kesayangan petinggi. Pola pikir semacam ini yang mungkin menyuburkan senioritas. Namun sungguh ironis, ketika nyawa-nyawa melayang atas nama emosi senior yang merasa kurang dihormati oleh juniornya. Bukankah kita harus punya perilaku manusiawi dulu sebelum menuntut untuk dihormati?

Sekujur tubuh para korban ditemukan luka. Pun hasil otopsi sudah memastikan adanya unsur kekerasan fisik. Dari yang diceritakan oleh Almarhum Syait Asyam dan Ilham Nur, mereka diperlakukan secara keterlaluan selama acara TGC berlangsung. Mulai dari diinjak kakinya sampai luka dan bernanah, disuruh mengangkat ember air dengan leher, hingga disabet dengan rotan puluhan kali. Menjadi seorang anggota Mahasiswa Pecinta Alam memang perlu fisik yang kuat. Karena itu latihan fisik sudah pasti ada. Tapi latihan seperti apa yang sampai menghilangkan nyawa? Padahal sesuai prosedurnya, peserta diksar mapala pastilah punya surat keterangan sehat sebelum berangkat.